Gaya rapat Steve Jobs yang penuh semangat telah membentuk budaya kerja di Apple selama beberapa dekade. Dalam buku terbarunya yang berjudul Apple: The First 50 Years, David Pogue mengungkapkan rahasia di balik budaya perusahaan yang dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan Jobs, terutama saat ia berupaya membalikkan keadaan Apple pada tahun 1997.
Rapat Sebagai Sarana Debat
Salah satu ciri khas Jobs sebagai CEO adalah kecintaannya terhadap rapat. Ia mengalokasikan satu hari setiap minggu untuk bertemu dengan berbagai anggota tim eksekutifnya, dengan hari Senin dijadwalkan untuk rapat-rapat paling penting. Di sinilah Jobs dan para pemimpin Apple mengembangkan budaya debat yang konstruktif.
Phil Schiller, mantan eksekutif pemasaran, menjelaskan kepada Pogue bahwa mereka sering saling mengkritik strategi masing-masing dan memfokuskan kembali pada visi yang sama. Proses ini membuat kolaborasi menjadi lebih mudah, meskipun terkadang bisa terasa menegangkan.
Akuntabilitas dalam Keputusan
“Kita semua akan berdebat sekuat yang kita mau, tentang apa pun yang kita pikirkan,” ungkap Schiller dalam buku tersebut. “Ucapkan di ruangan ini. Dan ketika kita meninggalkan ruangan, kita semua memiliki keputusan itu bersama-sama.”
Semua anggota tim bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Mereka memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya selama rapat. Metode ini merujuk kepada metafora yang sering digunakan Jobs tentang penggiling batu yang mengubah batu-batu kasar menjadi permata yang indah. Pogue mencatat bahwa Jobs percaya bahwa orang-orang yang saling berdebat, berselisih, dan bekerja sama dapat saling memoles ide satu sama lain.
Metode yang Masih Relevan
Pogue menambahkan bahwa metafora ini masih digunakan di Apple bahkan setelah kepergian Jobs. Hal ini membantu perusahaan menghindari situasi di mana orang-orang berpikir buruk tentang suatu proyek tetapi tetap diam karena takut. Metode ini juga memberikan kesempatan untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang.
“Kadang-kadang kami saling bertukar posisi dan berdebat dengan cara yang berlawanan. Itulah cara kami menghasilkan ide-ide baru,” kata Jon Rubinstein, mantan eksekutif teknik perangkat keras Apple.
Tidak Ada PowerPoint di Rapat Jobs
Satu hal yang tidak akan ditemukan dalam rapat bersama Jobs adalah presentasi PowerPoint. Pogue mencatat bahwa co-founder Apple ini menganggap presentasi semacam itu tidak perlu. “Saya benci cara orang menggunakan presentasi slide alih-alih berpikir,” kata Jobs. “Orang yang tahu apa yang mereka bicarakan tidak perlu PowerPoint.”
Gaya Jobs yang inovatif saat itu telah membantu mengembangkan Apple menjadi raksasa teknologi yang dominan. “Itu menciptakan budaya kolaborasi, budaya tujuan bersama, dan fokus tunggal pada apa yang sedang kami lakukan,” ujar Schiller.
Kesimpulan
Gaya rapat Steve Jobs bukan hanya sekadar metode kerja, tetapi juga menciptakan budaya yang mendukung inovasi dan kolaborasi di Apple. Pendekatan ini tetap relevan dan menjadi salah satu faktor keberhasilan perusahaan dalam menciptakan produk-produk inovatif yang mengubah industri teknologi. Dengan memahami gaya kepemimpinan Jobs, kita bisa mengambil inspirasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan kreatif.