Di tengah kesibukan dan ketegangan dunia keuangan, Niccolo Porcello, seorang mantan manajer kantor di sebuah hedge fund Connecticut, menyadari bahwa sikapnya yang kritis terhadap akumulasi kekayaan justru membuatnya disukai oleh rekan-rekannya. ‘Politik saya tidak sejalan dengan akumulasi modal,’ ujarnya dalam wawancara dengan Business Insider. ‘Saya cukup vokal tentang itu, dan hal ini membuat saya menjadi sosok langka di dunia mereka.’
Pengalaman ini memicu ide bagi Porcello untuk meluncurkan The New York Review of Finance, sebuah newsletter cetak yang dirilis pertama kali pada bulan November lalu, bersama dua rekannya, Paige Oamek dan Michael Nicholas. Sejak sebelum edisi pertama dirilis, newsletter ini sudah berhasil menarik perhatian para banker, lebih dari yang mereka harapkan.
‘Kami terkejut dengan banyaknya orang Wall Street yang tertarik,’ kata Porcello. ‘Banyak yang datang ke acara peluncuran dan berkata, ‘Kami melihat ini di Twitter — kami bekerja di bank terdekat.’
Konten yang Berani dan Terbuka
Edisi pertama newsletter ini mengulas tentang perusahaan data keuangan Bloomberg, dengan topik pemilihan wali kota NYC 2025 yang tengah hangat dibicarakan. Menariknya, semua tulisan di The New York Review of Finance ditulis tanpa nama penulis, memberi ruang bagi penulis untuk berbicara lebih bebas. Oamek percaya bahwa kebijakan tanpa nama ini akan menarik perhatian pembaca.
‘Kami ingin membangun legitimasi melalui keterbukaan itu,’ jelas Oamek. ‘Sehingga ketika ada hal-hal yang tidak berjalan baik, orang tahu ini adalah tempat yang bisa mereka percayai untuk berbagi informasi dan menjadi bagian dari komunitas ini.’
Humor dan Keunikan dalam Penyajian
Newsletter ini juga memiliki sisi yang humoris dan tidak konvensional, hingga pembacanya mungkin berpikir bahwa kontennya bisa jadi sekadar lelucon. Salah satu bagian yang menarik adalah horoskop finansial, sementara akun media sosialnya memberikan peringatan yang mencolok seperti, ‘Anda akan kehilangan semua uang Anda.’
Menciptakan Ruang untuk Diskusi Terbuka
Meski format cetak sering dipandang sebagai sesuatu yang kuno, para pendiri meyakini bahwa ada cara untuk membuatnya relevan. Mereka berhasil menciptakan aliran pendapatan berulang dari kombinasi penjualan langganan seharga $40 per tahun dan ruang iklan. Dua pengiklan pertama mereka adalah sebuah toko anggur dan sebuah bar jazz.
Format cetak memungkinkan para pembaca untuk menikmati artikel panjang dan berkualitas, seolah mereka membaca majalah seperti The New Yorker. ‘Kami semua sudah cukup lelah membaca di ponsel, dan rasanya menyenangkan memiliki sesuatu yang fisik untuk dipegang saat naik kereta bawah tanah,’ tambah Porcello.
Kesimpulan dan Harapan Ke Depan
Dengan rencana peluncuran edisi kedua pada bulan ini, The New York Review of Finance menunjukkan bahwa meski dalam dunia yang semakin digital, terdapat ruang untuk media cetak yang unik dan berani. Dengan pendekatan yang segar dan konten yang menarik, mereka berharap bisa terus mengundang perhatian dan diskusi di kalangan para profesional keuangan.