AI Google Lebih Kritis Terhadap Merek Dibanding ChatGPT

Pemantauan terhadap AI chatbots dan mesin pencari semakin penting. Penelitian terbaru dari BrightEdge mengungkapkan bahwa AI Google lebih cenderung menampilkan sentimen negatif terhadap merek dibandingkan ChatGPT. Dalam laporan yang dirilis, BrightEdge mencatat bahwa 44% lebih banyak sentimen negatif muncul dari AI Google dalam menjawab pertanyaan tentang merek.

BrightEdge, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang optimasi mesin pencari, menganalisis ratusan juta permintaan dan data digital dari pertengahan Januari hingga Februari 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar penyebutan merek bersifat positif atau netral, persentase 2,3% yang negatif untuk Google dan 1,6% untuk ChatGPT dapat dilihat oleh jutaan pengguna dalam sebulan.

“Hal pertama yang kami amati adalah perbedaan antara pencarian klasik dan AI adalah bahwa AI memiliki opini,” ungkap Jim Yu, CEO BrightEdge, dalam wawancara dengan Business Insider. “Ini secara mendasar mengubah cara pemasaran.”

Mengapa Ini Penting untuk Pemasaran di Indonesia?

Seiring dengan perubahan cara orang mencari produk dan layanan secara online, merek-merek di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, beralih ke teknik baru yang dikenal sebagai generative engine optimization (GEO) atau answer engine optimization (AEO). Teknik ini bertujuan untuk memastikan agar informasi tentang produk mereka muncul secara jelas dan akurat di platform-platform tersebut.

Dengan perkembangan yang cepat di ruang ini, banyak perusahaan masih berjuang untuk menentukan seperti apa strategi GEO mereka. Merek di Indonesia perlu memperhatikan bagaimana Google dan ChatGPT membagikan opini mereka.

Analisis Opini AI di Google dan ChatGPT

Google cenderung lebih kritis terhadap merek, terutama setelah peristiwa berita terbaru dan kontroversi. Sementara itu, ChatGPT memiliki tingkat negatif yang lebih rendah, namun cenderung muncul saat pengguna sedang mengevaluasi berbagai produk dan saat mereka hampir membuat keputusan pembelian.

Menurut BrightEdge, kontroversi merek dan masalah hukum menjadi pemicu utama (32%) dari sentimen negatif di kedua platform. Faktor lain yang dapat menyebabkan respon negatif termasuk informasi mengenai keterbatasan produk merek (21%), masalah keamanan atau penarikan produk (17%), serta kegagalan layanan atau gangguan (11%).

Bahkan berita negatif yang sudah lama dan tanggapan pelanggan sebelumnya dapat mempengaruhi hasil respon AI. Oleh karena itu, Yu menyarankan agar perusahaan mempertahankan aliran konten baru secara teratur karena “AI suka menemukan informasi terbaru.”

Strategi untuk Merek di Indonesia

Yu juga menyarankan agar merek berupaya mendorong pelanggan untuk memberikan ulasan positif. Namun, ia menekankan bahwa tidak ada pendekatan “satu ukuran untuk semua” bagi bisnis. Pemasar sebaiknya menganalisis sumber-sumber umum yang sering dikutip oleh mesin AI dan bekerja mundur dari sana.

“Ini bukan sekadar, ayo kita lakukan banyak hal di Reddit,” tambah Yu. “Ini tentang menentukan apa yang penting.”

Kesimpulan

Dengan meningkatnya penggunaan AI dalam proses pencarian dan evaluasi produk, penting bagi pemilik merek di Indonesia untuk memahami bagaimana AI beroperasi dan bagaimana sentimen yang ditampilkan dapat mempengaruhi citra merek mereka. Membangun strategi konten yang kuat dan responsif terhadap opini yang muncul di platform AI adalah langkah penting untuk menjaga reputasi dan meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*