Steven Bartlett, bintang dari acara The Diary of a CEO, telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) di perusahaannya, FlightStory, namun dengan satu pengecualian yang signifikan. Perusahaan media yang dipimpinnya ini telah memutuskan untuk menghentikan penggunaan AI dalam pembuatan konten untuk platform LinkedIn, setelah menyadari banyaknya konten berkualitas rendah yang dihasilkan oleh teknologi tersebut.
Keputusan Strategis untuk Meningkatkan Kualitas Konten
Tim di FlightStory merasa bahwa tulisan yang dibuat oleh manusia memiliki resonansi emosional yang lebih dalam dan mampu menembus kebisingan informasi yang ada di LinkedIn. Christiana Brenton, Chief Revenue Officer (CRO) dan salah satu pendiri FlightStory, menyatakan dalam wawancara dengan Business Insider, “Anda bisa benar-benar melihat kualitas rendah dari konten AI. Apa yang Steven deteksi sejak awal adalah bahwa ketika dunia bergerak ke arah tertentu, ada kesempatan yang dapat dimanfaatkan di arah yang berlawanan. Konten yang ditulis oleh manusia kini lebih menonjol di LinkedIn.” Oleh karena itu, baik Steven maupun timnya kini menulis setiap konten sosial yang dipublikasikan.
Kualitas Mengalahkan Kecepatan
Meskipun proses pembuatan konten oleh manusia memakan waktu lebih lama, Brenton mengungkapkan bahwa hasilnya jauh lebih baik dibandingkan konten yang dihasilkan AI. “Anda mungkin menyadari jika mengikuti Steven, ada kesalahan pengejaan dan kesalahan lainnya yang tidak diperbaiki secara sengaja. Ketika Anda dibanjiri dengan konten AI, semuanya mulai terasa kurang manusiawi,” ujarnya.
Langkah LinkedIn untuk Menjaga Otentisitas Konten
LinkedIn sendiri telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga otentisitas umpan pengguna, dengan menindak tegas konten yang dipromosikan secara artifisial dan komentar otomatis. Ini menunjukkan bahwa platform juga menyadari pentingnya keaslian dalam interaksi sosial.
Proyek AI FlightStory dan Pendekatan Berbasis Manusia
Pergeseran besar dalam penggunaan AI di FlightStory dimulai tahun lalu, ketika Bartlett menantang stafnya untuk mengikuti kompetisi dua bulan dalam menggunakan agen AI di pekerjaan mereka. Sejak itu, FlightStory, bagian dari perusahaan induk Steven.com, telah menerapkan AI di berbagai operasional, termasuk dalam proyek konten yang dinamakan Project Gutenberg, merujuk pada penemu mesin cetak.
Namun, tidak semua aspek pekerjaan di perusahaan ini dilakukan oleh AI. Contoh nyatanya adalah proses editing akhir dari konten yang dihasilkan AI, termasuk untuk acara animasi mendatang, Steven’s World, yang juga dilakukan oleh staf manusia. Isaac Martin, direktur inovasi di FlightStory, menekankan bahwa elemen-elemen seperti alur, dinamika, dan elemen emosional yang menarik bagi manusia tidak dapat direplikasi oleh mesin, terutama saat ini.
Menciptakan Konten yang Lebih Manusiawi
FlightStory juga berpikir untuk mengeksplorasi cara-cara lain untuk memanfaatkan nilai sentuhan manusia. Mereka sedang mempertimbangkan untuk membuat konten baru dalam gaya seri Behind The Diary milik Bartlett, di mana ia berbagi pelajaran dan nasihat bisnis dalam video yang diproduksi secara minimal. Brenton melihat peluang untuk menciptakan lebih banyak konten yang “mentah dan manusiawi” seiring dengan perkembangan AI yang semakin pesat.
Kesimpulan
Keputusan Steven Bartlett untuk menghentikan penggunaan AI dalam pembuatan konten LinkedIn menunjukkan komitmennya terhadap kualitas dan keaslian. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, penting bagi perusahaan media untuk tetap mempertahankan elemen manusia dalam setiap aspek pekerjaan mereka. Ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi banyak perusahaan lain di Indonesia dan di seluruh dunia, bahwa meskipun AI dapat membantu, sentuhan manusia tetaplah tak tergantikan.