Meditasi Bersama Biksu Zen: Pelajaran Berharga untuk Kehidupan

Pada suatu sore yang cerah di Los Angeles, sekitar 40 orang berkumpul di sebuah studio meditasi yang terletak di gang dekat Venice Beach. Mereka mengenakan pakaian olahraga yang serasi dan memegang minuman matcha dingin, siap untuk mengikuti kelas meditasi yang dipimpin oleh Toryo Ito, seorang biksu Zen asal Jepang.

Toryo Ito adalah wakil biksu senior di Kuil Ryosokuin di Kyoto, yang telah berdiri selama lebih dari 600 tahun. Pendekatan modernnya terhadap Zen telah menjadikannya sebagai duta mindfulness di dunia korporat, di mana ia memimpin sesi meditasi untuk perusahaan-perusahaan besar seperti Meta dan Salesforce.

Seiring dengan semakin populernya praktik mindfulness di kalangan pemimpin bisnis seperti Marc Benioff dan Jack Dorsey, banyak perusahaan kini menawarkan program meditasi kepada karyawan mereka untuk mengatasi kelelahan dan meningkatkan kinerja. Sebagai seorang jurnalis yang tinggal di California, saya memiliki pengalaman terbatas dengan meditasi, yang biasanya hanya saya coba saat menyusun resolusi tahunan. Namun, kali ini, saya berharap bisa mendapatkan motivasi baru dari kelas bersama biksu Zen.

Pembelajaran dari Meditasi

Kelas ini diselenggarakan oleh Open, sebuah startup mindfulness, dan diorganisir oleh Tatcha, merek perawatan kulit mewah yang didirikan oleh Vicky Tsai. Tsai sebelumnya bekerja di Wall Street sebelum memutuskan untuk beralih ke dunia mindfulness dan mempelajari meditasi di kuil Ito pada tahun 2016. Sejak 2021, Ito menjadi mentor kesejahteraan global pertama Tatcha.

Ketika kami masuk ke studio, suasana tenang tercipta. Di tengah keramaian, saya segera memperhatikan perbedaan antara Ito dan peserta lainnya. Sementara kami sibuk dengan ponsel, mengabadikan momen, dan berbincang, Ito duduk dengan tenang, menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Ia terlihat santai, kadang tersenyum ke arah kami, tetapi tidak melakukan gerakan yang tidak perlu.

Fokus pada Kesadaran

Setelah beberapa saat, perhatian kami terfokus pada Ito. Ia menyambut kami dan berbagi pengalamannya, menanyakan apakah ada di antara kami yang pernah mengunjungi Kyoto. Saat banyak tangan terangkat, Ito menjelaskan dua konsep penting dalam Zen: kesadaran dan perluasan batas diri untuk menghilangkan ego.

Walaupun terdengar ambisius, saya merasa tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Ito menjelaskan bahwa tidak ada kondisi meditasi yang sempurna, tetapi kita seharusnya fokus pada perhatian. Kelas dibagi menjadi tiga sesi meditasi, masing-masing berlangsung sekitar 10 menit, di mana kami duduk dalam keheningan dengan mata tertutup.

Pada sesi pertama, Ito meminta kami untuk memperhatikan suara dan aroma di sekitar. Kami mendengar bunyi lonceng yang ia bunyikan untuk memulai sesi, suara burung di latar belakang, dan bau alami yang menyegarkan. Sesi itu terasa singkat, tetapi saat saya mencoba fokus pada indera, saya merasakan ketenangan yang menyelimuti.

Dampak Meditasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Pengalaman ini menunjukkan bahwa meditasi tidak harus rumit. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai tekanan dan gangguan. Mengadopsi praktik mindfulness dapat membantu kita menjadi lebih hadir, lebih memahami diri sendiri, dan lebih siap menghadapi tantangan. Bagi pembaca di Indonesia, di mana stres dan tekanan kerja sering kali menjadi masalah, belajar dari pengalaman biksu Zen ini bisa menjadi langkah awal menuju kesehatan mental yang lebih baik.

Kesimpulannya, meditasi yang dipimpin oleh Toryo Ito mengajarkan kita bahwa kesederhanaan dalam praktik mindfulness adalah kunci untuk mencapai ketenangan. Dengan mengambil waktu sejenak untuk fokus dan menyadari lingkungan sekitar, kita dapat memperbaiki kualitas hidup kita. Mari kita mulai menjadikan meditasi sebagai bagian dari rutinitas harian kita, demi kesehatan mental yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*